Menjadi ikhlas itu mudah, tapi tidak semudah yang dibayangkan. Hmmm, kata ikhlas sudah sekian lama tertanam dalam hati, teorinya, kisah-kisah yang mengirinya, tapi ternyata praktiknya tidak semudah yang dibayangkan ya. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau mencoba dan berusaha. Yah, setidaknya tidak ada kata terlambat untuk memulai.
Yang terasa penting untuk dilakukan saat ini adalah ikhlas menerima, mengakui kebahagiaan orang terdekat. Loh kok? Memangnya sulit ya mengakui dan menerima kebahagiaan orang terdekat? Semoga hal ini bukan indikasi dari iri dengki, naudzubillah. Karena bagi saya ternyata sulit menerima, mengakui bahkan ikut merasakan kebahagiaan orang lain. Ah, bukan orang lain, tapi orang terdekat. Mengapa ya? Karena saya merasa, kok saya tidak bisa seperti dia? Kok saya hanya begini-begini saja? Ya, singkatnya sulitnya menerima kebahagiaan orang lain karena saya belum bisa seperti dia. Atau mungkin saya pun sebenarnya memiliki kebahagiaan yang jauh lebih besar dibanding dia, hanya jenis kebahagiaan yang saya dapatkan berbeda. Memang sih, materi jauh lebih terasa daripada immateri. Iih materialistis ya.
Sekarang saya akui, ternyata ikhlas dalam hal yang satu itu berkaitan erat dengan seberapa besar rasa syukur kita atas nikmat yang telah diberikan Rabb. Jika saya banyak bersyukur, ternyata nikmat yang saya dapatkan selama ini tidak terhingga. Ah, saya ikut berbahagia untuk orang terdekat saya.
Minggu, 21 Februari 2010
Mother: Go Green dengan Popok Plastik
Sebagai seorang ibu, selama ini saya selalu kerepotan dengan pipis bayi. Bau pesing, basah dan najis di mana-mana, belum lagi selain baju bayi yang basah, baju ibunya pun ikut-ikutan basah. Ah, jangankan baju, sprei dan kasur pun ikut banjir. Tapi itu terjadi saat si baby tidak memakai diapers. Ketika memakai diapers, semua kerepotan itu hilang. Semuanya serba bersih dan praktis. Tapi, efek sampingnya tidak kalah besar. Selain diapers memakan biaya yang cukup besar, sampahnya pun menumpuk dan sulit diuraikan. Bayangkan saja jika dalam satu hari satu malam baby memakai empat diapers, dalam seminggu berapa diapers yang dibuang. Jika begitu, kira-kira dapat dibayangkan seberapa menggunungnya sampah diapers di tempat sampah. Akhirnya, kita pun menjadi penyumbang sampah yang “produktif”.
Sebagai ibu dan pecinta lingkungan, saya selalu merasa bersalah ketika membuang sampah diapers setiap harinya. Belum lagi sampah-sampahnya sulit sekali dibakar. Selain tebal, sampah diapers juga basah. Apa daya, dibuang saja ke tempat sampah.
Belakangan saya berfikir bagaimana caranya agar pipis bayi tidak tercecer, tidak banyak cucian karena ompol, hemat dan tidak menimbulkan banyak sampah.
Cari, cari, cari, akhirnya saya dapat juga info tentang popok plastik. Membaca profil produknya sih sepertinya bagus, hemat, aman, pas untuk ibu cermat. Mulailah saya memesan si celana plastik (karena babynya sudah besar, jadi tidak pakai popok lagi) yang sudah disertai lampin untuk dalaman celana yang berfungsi menyerap ompol. Setelah dicoba, benar loh Bunda, tidak kalah efektifnya dengan memakai diapers. Hanya kita harus rajin memeriksa celananya, khawatir sudah basah. Celana dan popok plastik ramah lingkungan karena bisa dipakai berulang-ulang sehingga tidak menimbulkan banyak sampah.
Hmmm, kalau begini saya tidak perlu khawatir lagi menjadi penyumbang sampah. Coba deh Bunda, pakai popok plastik. Lebih hemat untuk ibu yang cermat.
Sebagai ibu dan pecinta lingkungan, saya selalu merasa bersalah ketika membuang sampah diapers setiap harinya. Belum lagi sampah-sampahnya sulit sekali dibakar. Selain tebal, sampah diapers juga basah. Apa daya, dibuang saja ke tempat sampah.
Belakangan saya berfikir bagaimana caranya agar pipis bayi tidak tercecer, tidak banyak cucian karena ompol, hemat dan tidak menimbulkan banyak sampah.
Cari, cari, cari, akhirnya saya dapat juga info tentang popok plastik. Membaca profil produknya sih sepertinya bagus, hemat, aman, pas untuk ibu cermat. Mulailah saya memesan si celana plastik (karena babynya sudah besar, jadi tidak pakai popok lagi) yang sudah disertai lampin untuk dalaman celana yang berfungsi menyerap ompol. Setelah dicoba, benar loh Bunda, tidak kalah efektifnya dengan memakai diapers. Hanya kita harus rajin memeriksa celananya, khawatir sudah basah. Celana dan popok plastik ramah lingkungan karena bisa dipakai berulang-ulang sehingga tidak menimbulkan banyak sampah.
Hmmm, kalau begini saya tidak perlu khawatir lagi menjadi penyumbang sampah. Coba deh Bunda, pakai popok plastik. Lebih hemat untuk ibu yang cermat.
Sabtu, 20 Februari 2010
The Power of Giving
Terkadang manusia begitu kikir dengan apa yang dimilikinya, tanpa menyadari bahwa segala yang dimiliki adalah titipan Ilahi, bukan milik pribadi. Begitu pun denganku. Memasuki masa perguruan tinggi aku menjadi relawan disebuah yayasan sosial. Di- yayasan ini aku menjadi mentor anak asuh yang terdiri dari yatim piatu dan duafa. Meski hanya bertemu satu kali dalam sebulan, hubungan antara aku dengan adik asuh terjalin cukup erat.
Mereka kerap bercerita tentang keadaan keluarga yang hidup jauh dari berkecukupan. Seorang adik asuh bercerita bahwa mereka harus berjalan kaki begitu jauh menuju sekolah. Bayangkan, jarak yang seharusnya ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum harus dilalui dengan berjalan kaki. Tapi mereka tak patah semangat, bahkan meski tak sesuap nasi pun yang masuk ke perut untuk menjadi tenaga sebagai bekal perjalanan, mereka tetap melangkah maju. Begitu banyak hal yang kupelajari dari mereka, tentang ketegaran, ketabahan, cinta kasih dan keikhlasan.
Ikhlas, entahlah apakah kata suci itu telah terpatri dalam hatiku. Namun, pelajaran tentang ikhlas itulah yang hingga kini berdampak besar dalam hidupku. Suatu hari yayasan menugaskan mentor bersilaturahmi pada keluarga adik asuh. Satu per satu kukunjungi, beragam keadaan keluarga kusaksikan. Jarak yang harus kutempuh untuk bisa sampai ke tujuan tidaklah dekat, namun tetap kujalani dengan ringan. Toh aku tidak perlu mengeluarkan ongkos karena semua ditangggung yayasan. Hingga suatu saat aku harus mengunjungi seorang adik asuh. Jarak rumahnya dengan tempatku begitu jauh, setelah naik angkutan umum masih harus menumpang ojeg, itu pun masih harus berjalan kaki. Saat itu keuanganku begitu terbatas, jatah dari orangtua masih lama dikirimkan, sedangkan kompensasi dari yayasan diberikan setelah tugas selesai.
Menghitung keuangan kupaksakan pergi. Tiba di tujuan aku di sambut seorang ibu yang sedang mencuci piring di pancuran depan rumah.
Ah Allah, rumah itu begitu sederhana, berdiri rapuh menempel pada bangunan sekolah. Di samping kiri terdapat jurang yang ditumbuhi rimbun bambu. Ngeri menyelusup ketika aku menengok ke luar lewat pintu dapur. Menurut siempunya rumah, jika hujan lebat air akan naik dari jurang dan menghanyutkan barang-barang yang tidak sempat dibawa masuk. Selain itu, rimbunan bambu membuat hewan melata seperti ular kerap bertandang ke dalam rumah. Iiiih ngeri.
Di rumah kecil itu mereka tinggal berdesakan, bapak dan ibu serta tiga orang putri yang salah satunya telah menikah dan memiliki putra. Bisa dibayangkan bagaimana pengapnya. Ayah adalah laki-laki yang tak mampu lagi menafkahi keluarga akibat diabetes yang telah menghilangkan satu jari kakinya. Ibu adalah wanita yang bekerja serabutan sebagai buruh cuci. Ah, syukurku tidak terkira, hilang sudah keluhanku tentang minimnya ongkos yang kini ada dikantungku. Bahkan tak kupikir dua kali ketika pamit pulang, kuselipkan selembar uang yang tak seberapa. Melangkah pulang, tak ada acara naik ojeg, jalan kaki menjadi pilihan terakhir, sisa uang kupakai untuk naik angkutan umum.
Seminggu setelah kunjungan itu aku hidup dalam keadaan yang pas-pasan, makan seadanya dan kusingkirkan jauh-jauh keinginan untuk jajan. Tapi sykurlah, tak lama ayahku menelpon, "uang bekal sudah dikirim" ucapnya di seberang telpon.. Ah, bagaikan senandung yang terdengar begitu merdu. Ketika kulihat nominalnya, Subhanallah, sepuluh kali lipat dari jumlah yang kuberikan pada ibu adik asuh saat itu. Aku teringat sebuah hadis yang mengatakan bahwa jika membelanjakan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan jumlah berlipat. Aku sudah membuktikan. Dan aku semakin menyayangi mereka, malaikat kecil yang mengajariku makna kehidupan.
Mereka kerap bercerita tentang keadaan keluarga yang hidup jauh dari berkecukupan. Seorang adik asuh bercerita bahwa mereka harus berjalan kaki begitu jauh menuju sekolah. Bayangkan, jarak yang seharusnya ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum harus dilalui dengan berjalan kaki. Tapi mereka tak patah semangat, bahkan meski tak sesuap nasi pun yang masuk ke perut untuk menjadi tenaga sebagai bekal perjalanan, mereka tetap melangkah maju. Begitu banyak hal yang kupelajari dari mereka, tentang ketegaran, ketabahan, cinta kasih dan keikhlasan.
Ikhlas, entahlah apakah kata suci itu telah terpatri dalam hatiku. Namun, pelajaran tentang ikhlas itulah yang hingga kini berdampak besar dalam hidupku. Suatu hari yayasan menugaskan mentor bersilaturahmi pada keluarga adik asuh. Satu per satu kukunjungi, beragam keadaan keluarga kusaksikan. Jarak yang harus kutempuh untuk bisa sampai ke tujuan tidaklah dekat, namun tetap kujalani dengan ringan. Toh aku tidak perlu mengeluarkan ongkos karena semua ditangggung yayasan. Hingga suatu saat aku harus mengunjungi seorang adik asuh. Jarak rumahnya dengan tempatku begitu jauh, setelah naik angkutan umum masih harus menumpang ojeg, itu pun masih harus berjalan kaki. Saat itu keuanganku begitu terbatas, jatah dari orangtua masih lama dikirimkan, sedangkan kompensasi dari yayasan diberikan setelah tugas selesai.
Menghitung keuangan kupaksakan pergi. Tiba di tujuan aku di sambut seorang ibu yang sedang mencuci piring di pancuran depan rumah.
Ah Allah, rumah itu begitu sederhana, berdiri rapuh menempel pada bangunan sekolah. Di samping kiri terdapat jurang yang ditumbuhi rimbun bambu. Ngeri menyelusup ketika aku menengok ke luar lewat pintu dapur. Menurut siempunya rumah, jika hujan lebat air akan naik dari jurang dan menghanyutkan barang-barang yang tidak sempat dibawa masuk. Selain itu, rimbunan bambu membuat hewan melata seperti ular kerap bertandang ke dalam rumah. Iiiih ngeri.
Di rumah kecil itu mereka tinggal berdesakan, bapak dan ibu serta tiga orang putri yang salah satunya telah menikah dan memiliki putra. Bisa dibayangkan bagaimana pengapnya. Ayah adalah laki-laki yang tak mampu lagi menafkahi keluarga akibat diabetes yang telah menghilangkan satu jari kakinya. Ibu adalah wanita yang bekerja serabutan sebagai buruh cuci. Ah, syukurku tidak terkira, hilang sudah keluhanku tentang minimnya ongkos yang kini ada dikantungku. Bahkan tak kupikir dua kali ketika pamit pulang, kuselipkan selembar uang yang tak seberapa. Melangkah pulang, tak ada acara naik ojeg, jalan kaki menjadi pilihan terakhir, sisa uang kupakai untuk naik angkutan umum.
Seminggu setelah kunjungan itu aku hidup dalam keadaan yang pas-pasan, makan seadanya dan kusingkirkan jauh-jauh keinginan untuk jajan. Tapi sykurlah, tak lama ayahku menelpon, "uang bekal sudah dikirim" ucapnya di seberang telpon.. Ah, bagaikan senandung yang terdengar begitu merdu. Ketika kulihat nominalnya, Subhanallah, sepuluh kali lipat dari jumlah yang kuberikan pada ibu adik asuh saat itu. Aku teringat sebuah hadis yang mengatakan bahwa jika membelanjakan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan jumlah berlipat. Aku sudah membuktikan. Dan aku semakin menyayangi mereka, malaikat kecil yang mengajariku makna kehidupan.
Jilbabku, antara Ambisi dan Keyakinan
Sebuah titik balik yang tak pernah kubayangkan sebelumnya akan terjadi dalam hidupku, mengantarkanku menuju episode hidup yang baru. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku adalah sosok yang jauh berbeda dengan aku saat ini. Rambut kubiarkan diikat tanpa penutup jilbab, meskipun kadang jika aku berangkat sekolah kukenakan jilbab itu dengan seadanya. Dengan rambut yang masih menyembul di depan, lengan baju yang tergulung sampai siku, dan rok yang terbelah sampai betis, tapi saat itu aku merasa begitu salih. Koleksi rok pun hanya beberapa saja, di luar sekolah aku lebih senang mengenakan celana, baik panjang atau pendek. Hingga Ayahku saat itu begitu cemas dengan keadaanku, tentang bagaimana masa depanku, bagaimana aku tumbuh sebagai wanita dewasa kelak.
Memasuki masa SMA, nilai ujian nasional yang cukup tinggi mengantarkanku masuk sekolah yang cukup favorit di kotaku, namun jauhnya jarak membuatku ragu karena harus tinggal di kos jauh dari orangtua. Namun saat Ayah mengantarku untuk pindah, beliau berkata 'mungkin ada rencana Allah yang jauh lebih baik dengan kamu sekolah di sana". Sebuah ucapan yang baru kusadari maknanya setahun kemudian, dan selalu kuingat hingga kini.
Penampilanku tidak banyak berubah. Jilbab hanya kukenakan jika ke sekolah, di luar sekolah celana pendek dan kaos oblong masih menjadi kostum favoritku. Aku mengikuti ekstrakulikuler Paskibra, sebuah aktivitas yang memang kucintai sejak aku masih di sekolah dasar. Dulu setiap tujuh belas Agustus, aku selalu melihat Paskibraka nasional mengibarkan bendera di istana negara lewat televisi, aku bermimpi menjadi bagian dari mereka. Tegap, gagah, berwibawa. Aku berlatih dengan giat, berjemur di panas matahari menjadi kegiatan harianku. Hingga impianku menjadi pasukan Pengibar Bendera Pusaka tiba di depan mata. Meski bukan nasional, aku tetap bangga karena mampu menyisihkan ratusan siswa lainnya.
Tapi apa yang terjadi, ketika impian tiba di depan mata sebuah pertanyaan menyentakku. Temanku yang begitu anggun denga pakaian yang membungkus tubuhnya, dan jilbab yang membalut wajah cantiknya, bertanya padaku dengan ringan, "kapan atuh mau pakai jilbab yang benar?" Nadanya ringan saja, tapi membuatku tersudut. Kujawab dengan ringan juga, "nanti ya, tahun depan kalau sudah jadi Paskibraka." Dalam bayanganku, memakai jilbab yang benar, sesuai aturan sebagaimana tertulis dalam Al-Ahzaab 59, begitu menyiksa, panas, ribet, dan membatasi aktivitas, apalagi sesaat lagi impianku menjadi paskibraka akan terwujud. Saat itu Paskibraka belum diperbolehkan memakai jilbab, beda dengan sekarang. Dulu, aku sangat tidak suka jika melihat ibuku memakai jilbab, atau sepupuku yang berjilbab rapih.
Mendengar jawabanku, temanku tersenyum, lalu ucapnya "trus kalau kamu meninggal besok gimana?"
Deg! tak kuduga pertanyaan itu akan menimpaku. Lama pertanyaan itu menghantuiku, tentu saja karena tak ada satu pun yang tahu kapan ajal menjemput. Akhirnya, saat karantina Paskibraka tiba, aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Bisa dibayangkan pergolakan batin yang kualami, antara keinginan kuatku meraih impian dan keyakinan yang mulai tumbuh. Para senior yang mendengar masalahku menyudutkanku, memaksaku untuk tetap ikut, bahkan beberapa senior mejauhiku, begitu pun dengan teman-teman seangkatanku, mereka mendorongku untuk tetap melanjutkan masuk karantina. Bagi mereka dan bagiku menjadi anggota Paskibraka adalah prestasi dan kebanggaan. Akhirnya hatiku luluh oleh bujukan, tapi aku kalah secara keyakinan. Aku maju. Tapi dalam hati aku berjanji, setelah ini aku akan memantapkan niat memakai jilbab dengan benar.
Agustus 2003 impianku tercapai sudah. Kini kumantapkan niat memakai jilbab. Kumulai dengan mengulurkan jilbabku yang biasa melilit leher hingga terjulur ke dada. Canggung, malu saat bertemu teman-teman, seolah semua orang memandangiku. Namun kecanggungan itu tetap kujalani, hingga akhirnya aku dan teman-teman mulai terbiasa dengan penampilan baruku. Bahkan kesan pejilbab yang kaku pun hilang sudah. Dengan berjilbab aku tetap bisa bergaul dengan semua teman, bahkan dari berbagai keyakinan. Aku pun tetap berprestasi di keanggotaan Paskibra dengan menjadi pelatih dan sempat terpilih sebagai Komandan Peleton terbaik putri dikotaku, tentu tanpa menanggalkan jilbab. Aku pun berani tampil berbeda di setiap perlombaan dengan memakai jilbab, dan mampu membuat kelompok kami memboyong piala. Aku merasa aman, terlindungi dari tatapan dan tangan jahil. Aku lebih bangga karena hanya akan memperlihatkan tubuhku kepada seorang lelaki yang mengikatku dengan cinta dan ridha Allah. Sedangkan perjuangan untuk memakai jilbab membuatku tetap bertahan dari berbagai godaan, tak mudah melepas keyakinan. Aku pun lebih menghargai mereka yang sedang berusaha menutup auratnya tanpa menyudutkan.
Akhirnya ucapan Ayahku di awal dulu terbukti sudah, inilah rencana Allah untuk menjadikanku lebih baik.
T
Memasuki masa SMA, nilai ujian nasional yang cukup tinggi mengantarkanku masuk sekolah yang cukup favorit di kotaku, namun jauhnya jarak membuatku ragu karena harus tinggal di kos jauh dari orangtua. Namun saat Ayah mengantarku untuk pindah, beliau berkata 'mungkin ada rencana Allah yang jauh lebih baik dengan kamu sekolah di sana". Sebuah ucapan yang baru kusadari maknanya setahun kemudian, dan selalu kuingat hingga kini.
Penampilanku tidak banyak berubah. Jilbab hanya kukenakan jika ke sekolah, di luar sekolah celana pendek dan kaos oblong masih menjadi kostum favoritku. Aku mengikuti ekstrakulikuler Paskibra, sebuah aktivitas yang memang kucintai sejak aku masih di sekolah dasar. Dulu setiap tujuh belas Agustus, aku selalu melihat Paskibraka nasional mengibarkan bendera di istana negara lewat televisi, aku bermimpi menjadi bagian dari mereka. Tegap, gagah, berwibawa. Aku berlatih dengan giat, berjemur di panas matahari menjadi kegiatan harianku. Hingga impianku menjadi pasukan Pengibar Bendera Pusaka tiba di depan mata. Meski bukan nasional, aku tetap bangga karena mampu menyisihkan ratusan siswa lainnya.
Tapi apa yang terjadi, ketika impian tiba di depan mata sebuah pertanyaan menyentakku. Temanku yang begitu anggun denga pakaian yang membungkus tubuhnya, dan jilbab yang membalut wajah cantiknya, bertanya padaku dengan ringan, "kapan atuh mau pakai jilbab yang benar?" Nadanya ringan saja, tapi membuatku tersudut. Kujawab dengan ringan juga, "nanti ya, tahun depan kalau sudah jadi Paskibraka." Dalam bayanganku, memakai jilbab yang benar, sesuai aturan sebagaimana tertulis dalam Al-Ahzaab 59, begitu menyiksa, panas, ribet, dan membatasi aktivitas, apalagi sesaat lagi impianku menjadi paskibraka akan terwujud. Saat itu Paskibraka belum diperbolehkan memakai jilbab, beda dengan sekarang. Dulu, aku sangat tidak suka jika melihat ibuku memakai jilbab, atau sepupuku yang berjilbab rapih.
Mendengar jawabanku, temanku tersenyum, lalu ucapnya "trus kalau kamu meninggal besok gimana?"
Deg! tak kuduga pertanyaan itu akan menimpaku. Lama pertanyaan itu menghantuiku, tentu saja karena tak ada satu pun yang tahu kapan ajal menjemput. Akhirnya, saat karantina Paskibraka tiba, aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Bisa dibayangkan pergolakan batin yang kualami, antara keinginan kuatku meraih impian dan keyakinan yang mulai tumbuh. Para senior yang mendengar masalahku menyudutkanku, memaksaku untuk tetap ikut, bahkan beberapa senior mejauhiku, begitu pun dengan teman-teman seangkatanku, mereka mendorongku untuk tetap melanjutkan masuk karantina. Bagi mereka dan bagiku menjadi anggota Paskibraka adalah prestasi dan kebanggaan. Akhirnya hatiku luluh oleh bujukan, tapi aku kalah secara keyakinan. Aku maju. Tapi dalam hati aku berjanji, setelah ini aku akan memantapkan niat memakai jilbab dengan benar.
Agustus 2003 impianku tercapai sudah. Kini kumantapkan niat memakai jilbab. Kumulai dengan mengulurkan jilbabku yang biasa melilit leher hingga terjulur ke dada. Canggung, malu saat bertemu teman-teman, seolah semua orang memandangiku. Namun kecanggungan itu tetap kujalani, hingga akhirnya aku dan teman-teman mulai terbiasa dengan penampilan baruku. Bahkan kesan pejilbab yang kaku pun hilang sudah. Dengan berjilbab aku tetap bisa bergaul dengan semua teman, bahkan dari berbagai keyakinan. Aku pun tetap berprestasi di keanggotaan Paskibra dengan menjadi pelatih dan sempat terpilih sebagai Komandan Peleton terbaik putri dikotaku, tentu tanpa menanggalkan jilbab. Aku pun berani tampil berbeda di setiap perlombaan dengan memakai jilbab, dan mampu membuat kelompok kami memboyong piala. Aku merasa aman, terlindungi dari tatapan dan tangan jahil. Aku lebih bangga karena hanya akan memperlihatkan tubuhku kepada seorang lelaki yang mengikatku dengan cinta dan ridha Allah. Sedangkan perjuangan untuk memakai jilbab membuatku tetap bertahan dari berbagai godaan, tak mudah melepas keyakinan. Aku pun lebih menghargai mereka yang sedang berusaha menutup auratnya tanpa menyudutkan.
Akhirnya ucapan Ayahku di awal dulu terbukti sudah, inilah rencana Allah untuk menjadikanku lebih baik.
T
Selasa, 16 Februari 2010
Perempuan Bersarung
Don’t jugde a book by cover. Jangan menilai buku hanya dari jilidnya saja, begitu orang-orang mengatakan untuk mengungkapkan bahwa kita tidak boleh menilai seserang hanya dari penampilan luarnya saja. Tapi ternyata menilai bagian luar akan sangat menentukan penilaian seseorang akan sesuatu. Untuk buku misalnya, sebelum membeli tentu pertama kali kita akan melihat sampulnya. Judul, pengarang, deskripsi singkat tentang isi, yang semua itu terangkum dalam desain. Desain yang menarik, tepat sasaran serta mencerminkan isi, akan menentukan sikap pembaca untuk memutuskan membeli atau mengembalikannya ke rak display. Begitu pun ketika bertemu seseorang, tentu pertama dilihat adalah penampilan luarnya. Meskipun hati lebih penting, tapi siapa yang tahu isi hati seseorang. Penampilan dapat mencerminkan kepribadian seseorang.
Suatu saat ketika saya menghadiri sebuah seminar dengan pembicara bergengsi tingkat nasional yang bertempat di Bandung, duduk di sebelah saya seorang wanita. Saya taksir umurnya sekitar pertengahan dua puluhan. Berjilbab bergo panjang dengan tali di belakang, namun tali tersebut dibiarkan menjuntai. Jaket hitam yang ukurannya terlalu besar serta bertuliskan sebuah instansi menutupi tubuh kurusnya. Didalamnya memakai kaos panjang yang panjangnnya melebihi ukuran jaketnya. Rok panjang corak batik using yang dalam pandangan saya lebih mirip sarung laki-laki dipakainya, di dalamnya masih terdapat celana dalaman panjang warna hitam yang panjangnya melebihi rok sarungnya. Kakinya dibungkus kaus kaki putih seperti yang sering saya pakai ketika sekolah SD dulu, serta sandal selop kulit tanpa tali.
Saya tidak berusaha menerka bagaimana kepribadian si wanita, apalagi menebak isi hatinya. Tapi ketika melihatnya celetukan muncul di dalam hati “iih kok gitu sih”. Ah. Mungkin saja dia orang yang kurang mampu. Mungkin, tapi ketika sempat berbincang, beliau adalah seorang guru yang memiliki pengasuh untuk mengasuh anaknya ketika dia mengajar. Memiliki seorang pengasuh bagi saya mengindikasikan bahwa wanita ini cukup mampu. Toh tampil apik bukan berarti harus mahal kan?
Saat itu saya baru menyadari betapa pentingnya penampilan luar. Terlebih jika penampilan tersebut mencerminkan sebuah identitas. Seperti yang saya gambarkan pada penampilan wanita di atas. Berjilbab menandakan suatu identits kemusliman. Pakaian yang menutup aurat tentu penting, namun akan sangat baik jika tidak hanya sampai menutup aurat, namun bagaimana menutup aurat itu dapat mencerminkan indahnya menjadi seorang muslimah. Tampil cantik tanpa berniat tabaruj, namun sebagai bukti bahwa iniliah Islam, inilai Muslimah, mencintai keindahan. Bukankah Alllah Maha Indah dan mencintai keindahan? Penampilan seorang muslimah juga akan menentukan penilaian seseorang terhadap Islam, serta menentukan ketertarikan wanita lain terhadap jilbab.
Sedangkan mengenai niat, hal itu dikembalikan pada tujuan seseorang berpenampilan kemudian akan menentukan timbal balik apa yang akan didapatkan. Seperti yang dikemukakan Muhammad Faudzil Adhim dalam bukunya Kado Terindah Untuk Istriku, bahwa ketika seorang istri bersolek, tidak ada yang tahu untuk tujuan apa dia bersolek. Hanya dialah yang tahu, ketika bersolek untuk tujuan apa dia bersolek.
Suatu saat ketika saya menghadiri sebuah seminar dengan pembicara bergengsi tingkat nasional yang bertempat di Bandung, duduk di sebelah saya seorang wanita. Saya taksir umurnya sekitar pertengahan dua puluhan. Berjilbab bergo panjang dengan tali di belakang, namun tali tersebut dibiarkan menjuntai. Jaket hitam yang ukurannya terlalu besar serta bertuliskan sebuah instansi menutupi tubuh kurusnya. Didalamnya memakai kaos panjang yang panjangnnya melebihi ukuran jaketnya. Rok panjang corak batik using yang dalam pandangan saya lebih mirip sarung laki-laki dipakainya, di dalamnya masih terdapat celana dalaman panjang warna hitam yang panjangnya melebihi rok sarungnya. Kakinya dibungkus kaus kaki putih seperti yang sering saya pakai ketika sekolah SD dulu, serta sandal selop kulit tanpa tali.
Saya tidak berusaha menerka bagaimana kepribadian si wanita, apalagi menebak isi hatinya. Tapi ketika melihatnya celetukan muncul di dalam hati “iih kok gitu sih”. Ah. Mungkin saja dia orang yang kurang mampu. Mungkin, tapi ketika sempat berbincang, beliau adalah seorang guru yang memiliki pengasuh untuk mengasuh anaknya ketika dia mengajar. Memiliki seorang pengasuh bagi saya mengindikasikan bahwa wanita ini cukup mampu. Toh tampil apik bukan berarti harus mahal kan?
Saat itu saya baru menyadari betapa pentingnya penampilan luar. Terlebih jika penampilan tersebut mencerminkan sebuah identitas. Seperti yang saya gambarkan pada penampilan wanita di atas. Berjilbab menandakan suatu identits kemusliman. Pakaian yang menutup aurat tentu penting, namun akan sangat baik jika tidak hanya sampai menutup aurat, namun bagaimana menutup aurat itu dapat mencerminkan indahnya menjadi seorang muslimah. Tampil cantik tanpa berniat tabaruj, namun sebagai bukti bahwa iniliah Islam, inilai Muslimah, mencintai keindahan. Bukankah Alllah Maha Indah dan mencintai keindahan? Penampilan seorang muslimah juga akan menentukan penilaian seseorang terhadap Islam, serta menentukan ketertarikan wanita lain terhadap jilbab.
Sedangkan mengenai niat, hal itu dikembalikan pada tujuan seseorang berpenampilan kemudian akan menentukan timbal balik apa yang akan didapatkan. Seperti yang dikemukakan Muhammad Faudzil Adhim dalam bukunya Kado Terindah Untuk Istriku, bahwa ketika seorang istri bersolek, tidak ada yang tahu untuk tujuan apa dia bersolek. Hanya dialah yang tahu, ketika bersolek untuk tujuan apa dia bersolek.
Selasa, 02 Juni 2009
Manisnya Senyum si Makhluk Mungil
Malu aku malu, pada semut merah, yang berbaris di dinding menatapku curiga..seakan penuh tanya…. Aku malu, tapi ah bukan pada semut merah. Aku malu pada makhluk mungil yang kini sedang berbaring di sebelahku. Dia tersenyum untuk pertama kalinya. Senyumnya manis semanis madu, sejuk sedingin salju.
Dia tersenyum padaku, tapi aku malu. Betapa tidak? Jika beberapa saat sebelum momen ajaib itu terjadi aku dengan kesalnya meletakkan si makhluk mungil itu di tempat tidur. Kesal, ingin marah melesak dadaku. Si bayi enggan tidur, hanya merengek dan meronta, padahal betapa ngantuk dan lelahnya aku. Semalaman tidak bisa terlelap, dan ketika siang menjelang tak kunjung bisa beristirahat. Maka, dengan kesal kuletakkan si bayi dan aku pun berbaring di sebelahnya. Kupejamkan kedua mataku mencoba tidur, mencoba melupakan makhluk mungil di sebelahku. Namun tak lama baru kusadari, tangis yang sejak tadi bergema di telingaku telah reda. Si bayi tidur? Mana mungkin? Dan betapa kagetnya aku mendapati si makhluk mungil tengah memandangku lekat, dan tiba-tiba dia pun tersenyuma. Senyum pertama yang terukir di bibir mungilnya setelah tiga minggu kelahirannya.
Kesal yang menggunung sejak tadi pun luntur sudah. Aku larut dalam manis senyumnya.
Dia tersenyum padaku, tapi aku malu. Betapa tidak? Jika beberapa saat sebelum momen ajaib itu terjadi aku dengan kesalnya meletakkan si makhluk mungil itu di tempat tidur. Kesal, ingin marah melesak dadaku. Si bayi enggan tidur, hanya merengek dan meronta, padahal betapa ngantuk dan lelahnya aku. Semalaman tidak bisa terlelap, dan ketika siang menjelang tak kunjung bisa beristirahat. Maka, dengan kesal kuletakkan si bayi dan aku pun berbaring di sebelahnya. Kupejamkan kedua mataku mencoba tidur, mencoba melupakan makhluk mungil di sebelahku. Namun tak lama baru kusadari, tangis yang sejak tadi bergema di telingaku telah reda. Si bayi tidur? Mana mungkin? Dan betapa kagetnya aku mendapati si makhluk mungil tengah memandangku lekat, dan tiba-tiba dia pun tersenyuma. Senyum pertama yang terukir di bibir mungilnya setelah tiga minggu kelahirannya.
Kesal yang menggunung sejak tadi pun luntur sudah. Aku larut dalam manis senyumnya.
Kamis, 21 Mei 2009
Duuh, Sakitnya Imunisasi DPT
Selamat pagi
Hari Rabu tanggal 20 Mei kemarin aku imunisasi. Kali ini aku dapat imunisasi combo, DPT dan Polio. Oh ya, sebelumnya aku ditimbang dulu. Waah berat badanku naik lagi, sekarang beratku 9,25kg, padahal umurku baru 3 bulan. Aku ndut ya, he he. Aduuuh, sakit banget waktu jarum suntik mendarat dipaha kiriku, aku nangis, tapi bundaku memelukku erat dan menguatkanku. Kata bundaku, imunisasi ini dilakukan agar kelak aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan terhindar dari berbabagai penyakit. Aku diberi obat untuk mengurangi rasa sakit.
Di rumah, aku terus menangis, bunda terus menggendongku dan memberikan kompres hangat di tempat bekas suntikan. Malamnya suhu tubuhku naik, badanku panas, aku tidak bisa tidur. Aah, kasihan bundaku, semalaman tidak tidur karena menggendong dan mengompresku. Tapi, hari ini aku sudah sehat. Suhu tubuhku sudah kembali normal. Aku pun bisa tidur nyenyak.
Nah, teman-teman, jangan takut imunisasi, karena dengan imunisasi kita menjadi sehat.
Hari Rabu tanggal 20 Mei kemarin aku imunisasi. Kali ini aku dapat imunisasi combo, DPT dan Polio. Oh ya, sebelumnya aku ditimbang dulu. Waah berat badanku naik lagi, sekarang beratku 9,25kg, padahal umurku baru 3 bulan. Aku ndut ya, he he. Aduuuh, sakit banget waktu jarum suntik mendarat dipaha kiriku, aku nangis, tapi bundaku memelukku erat dan menguatkanku. Kata bundaku, imunisasi ini dilakukan agar kelak aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan terhindar dari berbabagai penyakit. Aku diberi obat untuk mengurangi rasa sakit.
Di rumah, aku terus menangis, bunda terus menggendongku dan memberikan kompres hangat di tempat bekas suntikan. Malamnya suhu tubuhku naik, badanku panas, aku tidak bisa tidur. Aah, kasihan bundaku, semalaman tidak tidur karena menggendong dan mengompresku. Tapi, hari ini aku sudah sehat. Suhu tubuhku sudah kembali normal. Aku pun bisa tidur nyenyak.
Nah, teman-teman, jangan takut imunisasi, karena dengan imunisasi kita menjadi sehat.
Langganan:
Komentar (Atom)
