Sebagai seorang ibu, selama ini saya selalu kerepotan dengan pipis bayi. Bau pesing, basah dan najis di mana-mana, belum lagi selain baju bayi yang basah, baju ibunya pun ikut-ikutan basah. Ah, jangankan baju, sprei dan kasur pun ikut banjir. Tapi itu terjadi saat si baby tidak memakai diapers. Ketika memakai diapers, semua kerepotan itu hilang. Semuanya serba bersih dan praktis. Tapi, efek sampingnya tidak kalah besar. Selain diapers memakan biaya yang cukup besar, sampahnya pun menumpuk dan sulit diuraikan. Bayangkan saja jika dalam satu hari satu malam baby memakai empat diapers, dalam seminggu berapa diapers yang dibuang. Jika begitu, kira-kira dapat dibayangkan seberapa menggunungnya sampah diapers di tempat sampah. Akhirnya, kita pun menjadi penyumbang sampah yang “produktif”.
Sebagai ibu dan pecinta lingkungan, saya selalu merasa bersalah ketika membuang sampah diapers setiap harinya. Belum lagi sampah-sampahnya sulit sekali dibakar. Selain tebal, sampah diapers juga basah. Apa daya, dibuang saja ke tempat sampah.
Belakangan saya berfikir bagaimana caranya agar pipis bayi tidak tercecer, tidak banyak cucian karena ompol, hemat dan tidak menimbulkan banyak sampah.
Cari, cari, cari, akhirnya saya dapat juga info tentang popok plastik. Membaca profil produknya sih sepertinya bagus, hemat, aman, pas untuk ibu cermat. Mulailah saya memesan si celana plastik (karena babynya sudah besar, jadi tidak pakai popok lagi) yang sudah disertai lampin untuk dalaman celana yang berfungsi menyerap ompol. Setelah dicoba, benar loh Bunda, tidak kalah efektifnya dengan memakai diapers. Hanya kita harus rajin memeriksa celananya, khawatir sudah basah. Celana dan popok plastik ramah lingkungan karena bisa dipakai berulang-ulang sehingga tidak menimbulkan banyak sampah.
Hmmm, kalau begini saya tidak perlu khawatir lagi menjadi penyumbang sampah. Coba deh Bunda, pakai popok plastik. Lebih hemat untuk ibu yang cermat.
Minggu, 21 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar