Menjadi ikhlas itu mudah, tapi tidak semudah yang dibayangkan. Hmmm, kata ikhlas sudah sekian lama tertanam dalam hati, teorinya, kisah-kisah yang mengirinya, tapi ternyata praktiknya tidak semudah yang dibayangkan ya. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau mencoba dan berusaha. Yah, setidaknya tidak ada kata terlambat untuk memulai.
Yang terasa penting untuk dilakukan saat ini adalah ikhlas menerima, mengakui kebahagiaan orang terdekat. Loh kok? Memangnya sulit ya mengakui dan menerima kebahagiaan orang terdekat? Semoga hal ini bukan indikasi dari iri dengki, naudzubillah. Karena bagi saya ternyata sulit menerima, mengakui bahkan ikut merasakan kebahagiaan orang lain. Ah, bukan orang lain, tapi orang terdekat. Mengapa ya? Karena saya merasa, kok saya tidak bisa seperti dia? Kok saya hanya begini-begini saja? Ya, singkatnya sulitnya menerima kebahagiaan orang lain karena saya belum bisa seperti dia. Atau mungkin saya pun sebenarnya memiliki kebahagiaan yang jauh lebih besar dibanding dia, hanya jenis kebahagiaan yang saya dapatkan berbeda. Memang sih, materi jauh lebih terasa daripada immateri. Iih materialistis ya.
Sekarang saya akui, ternyata ikhlas dalam hal yang satu itu berkaitan erat dengan seberapa besar rasa syukur kita atas nikmat yang telah diberikan Rabb. Jika saya banyak bersyukur, ternyata nikmat yang saya dapatkan selama ini tidak terhingga. Ah, saya ikut berbahagia untuk orang terdekat saya.
Minggu, 21 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar