Terkadang manusia begitu kikir dengan apa yang dimilikinya, tanpa menyadari bahwa segala yang dimiliki adalah titipan Ilahi, bukan milik pribadi. Begitu pun denganku. Memasuki masa perguruan tinggi aku menjadi relawan disebuah yayasan sosial. Di- yayasan ini aku menjadi mentor anak asuh yang terdiri dari yatim piatu dan duafa. Meski hanya bertemu satu kali dalam sebulan, hubungan antara aku dengan adik asuh terjalin cukup erat.
Mereka kerap bercerita tentang keadaan keluarga yang hidup jauh dari berkecukupan. Seorang adik asuh bercerita bahwa mereka harus berjalan kaki begitu jauh menuju sekolah. Bayangkan, jarak yang seharusnya ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum harus dilalui dengan berjalan kaki. Tapi mereka tak patah semangat, bahkan meski tak sesuap nasi pun yang masuk ke perut untuk menjadi tenaga sebagai bekal perjalanan, mereka tetap melangkah maju. Begitu banyak hal yang kupelajari dari mereka, tentang ketegaran, ketabahan, cinta kasih dan keikhlasan.
Ikhlas, entahlah apakah kata suci itu telah terpatri dalam hatiku. Namun, pelajaran tentang ikhlas itulah yang hingga kini berdampak besar dalam hidupku. Suatu hari yayasan menugaskan mentor bersilaturahmi pada keluarga adik asuh. Satu per satu kukunjungi, beragam keadaan keluarga kusaksikan. Jarak yang harus kutempuh untuk bisa sampai ke tujuan tidaklah dekat, namun tetap kujalani dengan ringan. Toh aku tidak perlu mengeluarkan ongkos karena semua ditangggung yayasan. Hingga suatu saat aku harus mengunjungi seorang adik asuh. Jarak rumahnya dengan tempatku begitu jauh, setelah naik angkutan umum masih harus menumpang ojeg, itu pun masih harus berjalan kaki. Saat itu keuanganku begitu terbatas, jatah dari orangtua masih lama dikirimkan, sedangkan kompensasi dari yayasan diberikan setelah tugas selesai.
Menghitung keuangan kupaksakan pergi. Tiba di tujuan aku di sambut seorang ibu yang sedang mencuci piring di pancuran depan rumah.
Ah Allah, rumah itu begitu sederhana, berdiri rapuh menempel pada bangunan sekolah. Di samping kiri terdapat jurang yang ditumbuhi rimbun bambu. Ngeri menyelusup ketika aku menengok ke luar lewat pintu dapur. Menurut siempunya rumah, jika hujan lebat air akan naik dari jurang dan menghanyutkan barang-barang yang tidak sempat dibawa masuk. Selain itu, rimbunan bambu membuat hewan melata seperti ular kerap bertandang ke dalam rumah. Iiiih ngeri.
Di rumah kecil itu mereka tinggal berdesakan, bapak dan ibu serta tiga orang putri yang salah satunya telah menikah dan memiliki putra. Bisa dibayangkan bagaimana pengapnya. Ayah adalah laki-laki yang tak mampu lagi menafkahi keluarga akibat diabetes yang telah menghilangkan satu jari kakinya. Ibu adalah wanita yang bekerja serabutan sebagai buruh cuci. Ah, syukurku tidak terkira, hilang sudah keluhanku tentang minimnya ongkos yang kini ada dikantungku. Bahkan tak kupikir dua kali ketika pamit pulang, kuselipkan selembar uang yang tak seberapa. Melangkah pulang, tak ada acara naik ojeg, jalan kaki menjadi pilihan terakhir, sisa uang kupakai untuk naik angkutan umum.
Seminggu setelah kunjungan itu aku hidup dalam keadaan yang pas-pasan, makan seadanya dan kusingkirkan jauh-jauh keinginan untuk jajan. Tapi sykurlah, tak lama ayahku menelpon, "uang bekal sudah dikirim" ucapnya di seberang telpon.. Ah, bagaikan senandung yang terdengar begitu merdu. Ketika kulihat nominalnya, Subhanallah, sepuluh kali lipat dari jumlah yang kuberikan pada ibu adik asuh saat itu. Aku teringat sebuah hadis yang mengatakan bahwa jika membelanjakan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan jumlah berlipat. Aku sudah membuktikan. Dan aku semakin menyayangi mereka, malaikat kecil yang mengajariku makna kehidupan.
Sabtu, 20 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar